Mengapa Kesederhanaan dalam Berpakaian Membantu Menjaga Hayaa Muslimah
Kesederhanaan dalam berpakaian seri kali dipahami sebagai pilihan gaya. Namun bagi muslimah, kesederhanaan lebih dari itu, ia adalah sikap yang membantu menjaga hayaa, rasa malu yang lahir dari kesadaran diri dan iman.
Berpakaian syar'i yang sederhana berarti memilih busana yang menutup aurat dengan utuh, longgar, dan tidak berlebihan. Ketika pakaian tidak dirancang untuk menarik perhatian, fokus pun kembali pada adab dan sikap. Dari sini, ketenangan hadir secara alami.
hayaa tidak tercermin dari perilaku, tetapi juga dari cara seseorang menampilkan diri. Pakaian yang rapi dan tenang membantu muslimah merasa cukup, cukup tertutup, cukup pantas, dan cukup nyaman menjalani aktivitas. Rasa cukup inilah yang sering kali menjaga hati dari keinginan untuk dilihat atau dibandingkan.
Kesederhanaan juga memberi ruang bagi konsistensi. Busana yang tidak mengikuti tren cepat membuat pilihan berpakaian lebih stabil dan berkelanjutan. Warna lembut, potingan bersih, dan bahan nyaman menjadi pendukung agar pakaian benar-benar berfungsi, bukan sekadar tampilan.
Dalam konteks ini, berpakaian menjadi bagian dari ibadah. Bukan karena model atau labelnya, melainkan karena niat dan kesadaran yang menyertainya. Ketika niat menjaga diri diletakkan di awal, pakaian pun menjadi sarana untuk menenangkan, bukan membebani.
Prinsip ini sejalan dengan pendekatan modestwear yang menempatkan nilai atas kemeriahan. Banyak muslimah kini kembali memilih busana yang sederhana dan fungsional, termasuk pilihan gamis syar'i dengan desain rapi dan tidak berlebihan seperti yang dihadrikan Safago.
Pada akhirnya, kesederhanaan dalam berpakaian bukan tentang mengurangi keindahan, melainkan memurnikannya. Dari situlah hayaa terjaga, dan ketenangan muslimah menjadi bagian dari keseharian muslimah.